SEJARAH
SASTRA INDONESIA dan PERIODISASI
SASTRA
INDONESIA
Feri
Herdian
17016058
Fakultas
Bahasa dan Seni
Universitas
Negeri Padang
Abstrak
Dalam artikel ini adalah hal-hal
mengenai sejarah sastra Indonesia dan periodisasi sastra Indonesia. Data-data
yang dibutuhkan untuk membahas topik ini berasal dari buku-buku para ahli dan
jurnal-jurnal yang berkaitan dengan topik tersebut. Sejarah sastra Indonesia
yang dibahas berkaitan dengan bagaimana proses sastra Indonesia lahir dan
berkembang menurut periodisasinya yang disebut dengan angkatan sastrawan.
Periodisasi tersebut akan dipaparkan satu-persatu.
Keywords:
Sejarah, periode, Sastra.
A.
Pendahuluan
Masa
lalu adalah sebuah gambaran realita yang banyak mengandung data-data penting
bagi masa sekarang atau masa depan. Gambaran itu disebut sejarah. Dalam
kajiannya, sastra juga memiliki sejarah yang dapat diteliti dan dipelajari
untuk kita dapat mengambil banyak data agar sastra kedepannya itu lebih baik
lagi. Menurut kajiannya, sastra Indonesia memiliki latar belakang dan alur
cerita yang panjang sehingga para ahli sastra Indonesia mengkajinya agar dapat
menjadi sebuah pijakan bagi sastrawan generasi penerus yang melanjutkan
perjuangan menghidupkan sastra tersebut,
A.
Teuw menyimpulkan (dalam Kuntowijoyo, volume 16 no. 1 Februari 2004) syukurlah
ada sastradan ilmu sejarah sebagai dua ragam pengungkapan persepsi manusia tentangnya”.
Pernyataan tersebut dapat menjadi sebuah perrefrensi bahwasannya persepsi
manusia akan sesuatu hal dapat diperoleh dengan sastra yang mengandung sejarah
kehidupan dan sejarah dapat dikabarkan dengan sastra pada zamannya.
Karena
ungkapan tersebut, maka untuk lebih dapat memahami sastra kita kaji sejarahnya
dengan memperhatikan perkembangan-perkembangannya menurut periode yang pernah
terbentuk. Sehingga, untuk meningkatkan mutu dan pemahaman terhadap sastra
diperlukan untuk mempelajari sejarah perkembangan dari sastra itu sendiri.
Setelah pembelajaran sejarah ini diharapkan agar dapat lebih memahami dan mampu
menuangkan ide-ide dalam menciptakan karya sastra.
Maka
dari itu penulis mencoba mamaparkan kembali penejlasan-penjelasan mengenai
periodisasi sastra Indonesia. Pemaparan yang akan disajikan berupa penjelasan
singkat dan jelas berdasarkan data para ahli yang dimuat dalam berbagai sumber.
B.
Pembahasan
1. Pengertian
Sejarah Sastra Indonesia
Sejarah
sastra merupakan cabang ilmu sastra yang mengkaji perkembangan sastra dari
waktu ke waktu. Di dalamnya dipelajari ciri-ciri karya sastra pada masa
tertentu, para sastrawan yang mengisi arena sastra, puncak-puncak karya sastra
yang menghiasi dunia sastra, serta peristiwa-peristiwa yang terjadi di seputar masalah
sastra. Dengan mempelajari sejarah sastra, kita dapat mengetahui perjalanan
sastra dari waktu ke waktu sebagai bagian dari pemahaman terhadap budaya
bangsa.
Sejarah
sastra di Indonesia masih jarang dilakukan pengkajiannya. Teeuw (Zulfahnur,
PBIN4104), mengatakan bahwa sudah terdapat beberapa buku tentang pengkajian
sejarah sastra Indonesia, tetapi pengkajian tersebut belum dapat memuaskan dari
sudut teori sastra. Menurut Teeuw, pengkajian sejarah sastra hendaklah bertolak
dari berbagai cara yang dapat membantu peneliti dalam meneliti sejarah sastra
sehingga menghasilkan sejarah
sastra yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Selanjutnya Todorov (Zulfahnur, PBIN4104) mengemukakan bahwa
tugas sejarah sastra adalah meneliti keragaman setiap kategori sastra, meneliti
jenis karya sastra baik secara diakronis, maupun sinkronis, serta menentukan
kaidah keragaman peralihan sastra dari suatu masa ke masa berikutnya. Tugas
yang dilakukan oleh sejarawan sastra tidak terlepas dari hasil kritik sastra
yang dilakukan peneliti sastra.
2. Kelahiran
Sastra Indonesia
Awal
mula kelahiran sastra Indonesia berawal dari pendirian sekolah-sekolah oleh
belanda atas dasar pelaksanaan politik etis atau balas jasa. Pendirian ini
menjadi dasar terbentuknya suatu badan yang memiliki tugas untuk menerbitkan
buku-buku yang baik untuk mencerdaskan
masyarakat. Badan ini kemudian mendirikan perpustakaan-perpustakaan yang
ditempatkan di sekolah-sekolah rakyat. Seiring berjalannya waktu, semakin
banyak tamatan-tamatan sekolah yang memerlukan bahan-bahan bacaan, badan ini
disebut balai pustaka.
Ketika
badan tersebut dibentuk, perlahan rasa minat baca di kalangan pelajar dan
rakyat mulai tumbuh. Bersamaan dengan itu, para sastrawan juga semakin percaya
diri untuk menampilkan karya-karyanya. Akan tetapi, jauh sebelum itu karya
sastra telah ada. Sastra yang disebut sastra klasik atau sastra melayu lama
yang ketika itu belum tersentuh pengaruh barat. Sastra klasik atau sastra
melayu lama tersebut masih dipengaruhi oleh kepercayaan dan kebudayaan. Salah
satu jenis sastra yang dipengaruhi kepercayaan adalah cerita rakyat yang
menyangkut kepercayaan suatu kelompok manusia terhadap suatu hal.
3. Peristiwa
yang melatarbelakangi sastra angkatan Balai Pustaka
Di akhir abad ke-19
pemerintah banyak mendirikan sekolah-sekolah untuk mendidik pegawai rendahan
yang dibutuhkan oleh pemerintah belanda. Akan tetapi sekolah yang diharapkan
tidak berkembang malah tumbuh dan berkembang dengan pasat, banyak masyarakat
yang pandai membaca dan menulis. Melihat minat masyarakat yang berkembang pesat
dalam membaca dan menulis, membuat pemerintah belanda khawatir sempat membaca
buku-buku dari luar negeri. Karena hal itu, pemerintah belanda kemudian
membentuk sebuah komisi yang diberi nama Commissie Voor de Inlandsche School en
Volksslectuur (Komisi untuk Bacaan Rakyat dan Sekolah-sekolah bumi Putera). Pada
tanggal 14 September 1908 komisi ini dibentuk di bawah pimpinan Dr. G.A.J.
Hazeu. Kemudian pada tahun 1917 namanya diganti menjadi Balai Pustaka, dan
Balai Pustaka terus berkembang dengan pesat pada tahun 1920.
4. Peristiwa
yang melatarbelakangi sastra angkatan Pujangga Baru
Angkatan Pujangga
Baru terbentuk akibat pola kesastraan asing yang lebih bebas ketika mencurahkan
perasaannya. Berangkat dari hal itu menjadi sebuah hal bagi sastrawan indonesia
untuk membuat suatu perubahan dalam kaidah sastra indonesia yang bertujuan
untuk berjuang mempersatukan bangsa. Kemudian timbul prakarsa untuk mendirikan perkumpulan
selain Balai Pustaka yang dapat digunakan sebagai tempat menampung bakat dan
cita-cita. Dari kalangan sastrawan muda timbul sebuah gagasan untuk
mempersatukan para penulis yang karyanya tersebar di beberapa majalah agar
membuat majalah khusus yang membahas tentang bahasa, sastra, dan kebudayaan
umum. Maka lahirlah sebuah ikatan para sastrawan muda yang dikenal dengan nama
Angkatan Pujangga Baru.
Pada awal
pembentukannya, Angkatan Pujangga Baru pertama kali dipimpin oleh St. Takdir
Alisjahbana. Pada tanggal 26 Juni 1933 terbitlah majalah bernama Pujangga Baru yang
terbit dalam jangka waktu sebulan sekali dan tersebar luas di kalang sastrawan
dan masyarakat terpelajar waktu itu. Majalah tersebut dijadikan sebagai wadah
bagi teman-teman yang sealiran dengan mereka untuk mencurahkan rasa hati yang
meluap-luap. Majalah Pujangga Baru dihentikan penerbitannya pada tahun 1942 karena
dilarang oleh Pemerintahan Jepang yang tengah menduduki Indonesia, namun pada
tahun 1949 diterbitkan kembali sampai 1953, (Rismawati, 2017).
5. Peristiwa
yang melatarbelakangi sastra angkatan ‘45
Angkatan ‘45
merupakan sebuah sebutan bagi para penyair dan sastrawan ketika memudarnya
eksistensi periode Pujangga Baru. Sebutan Angkatan ’45 sendiri secara umum baru
digunakan pertama kali oleh Rosihan Anwar dalam majalah Siasat yang diterbitkan
pada tanggal 9 Januari 1949 (Rismawati, 2017). Terlepas dari bagaimana polemik
yang menyertai penamaan tersebut. Mengingat rangkaian periode dalam sastra
tidak bisa dibayangkan seperti balok-balok batu yang dijajarkan secara
berurutan, melainkan saling tumpang tindih (Wellek via Pradopo, 1995:3).
Angkatan ’45
berlatar belakang penjajahan Jepang terhadap Indonesia. Jepang yang tiba-tiba
datang dan juga turut berkembang sastra Indonesia dalam kurun waktu tahun
1942-1945 yang disebut “Sastra Zaman Jepang”. Produk karya sastra zaman ini
banyak yang menghamba pada pemerintah jepang di Indonesia. Bahkan roman,
cerpen, dan puisi menjadi alat propaganda penjajah jepang, melalui sebuah
lembaga Keimin Bunka Shidosho, pusat kebudayaan yang pro Jepang. Akibatnya,
mereka yang bergabung pada lembaga itu dijuluki “kacung” Jepang.
6. Peristiwa
yang melatarbelakangi sastra angkatan “66
Angkatan ‘66 ini melakukan
pendobrakan terhadap keboborokan yang disebabkan oleh penyelewengan negara
besar-besaran, penyelewengan yang membawa kehancuran total yang menjadi sebuah
peristiwa yang melahirkan Angkatan ’66. Pada angkatan ini ledakan pemberontakan
dari penyair-penyair, pengarang dan cendikiawan yang telah lama dijajah jiwanya
dengan slogan-slogan yang tidak sesuai dengan hati nurani pun terjadi. Sehingga,
hal yang melatar-belakangi periode ini lahir adalah protes-protes terhadap
penyelewengan jabatan oleh pemerintahan.
Konsep dasar Angkatan
‘66 adalah pancasila yang sesuai dengan isi manifes kebudayaan yang banyak diselewengkan
pejabat pemerintah yang tidak bermoral kecuali moral untuk dirinya sendiri.
Akibat dari politik yang dijalankan tanpa perhitungan itu adalah masyarakat
yang mengalami keruntuhan mental dan spiritual. Manifes kebudayaan merupakan
salah satu perlawanan di bidang kebudayaan dan surat kabar.
Hingga terjadilah
aksi G30S yang
membongkar kedok Partai Komunis
Indonesia yang tidak wajar. Tetapi anehnya, enam jendral mati mengenaskan
sebagai korban, aktifis-aktifis Gestapu telah mengaku di depan Mahkamah Militer
Luar Biasa, PKI tidak dibubarkan sebagaimana partai-partai yang disangka
terlibat pemberontakan. Rakyat yang menuntut diminta tenang. Masyarakat bergolak,
keadaan ekonomi bertambah parah, inflasi makin menjadi-jadi. Hubungan luar
negeri makin buruk setelah tegang dengan Amerika, Inggris dan beberapa negara
barat lainnya dan konfrontasi dengan Malaysia yang berujung pada keluarnya
Indonesia dari PBB, maka setelah kejadian G30S hubungan Indonesia dengan
negara- negara komunis pun memburuk.
7. Peristiwa
yang melatarbelakangi sastra angkatan ’70-an
Menurut Dami,
Angkatan ’70-an ini dimulai dengan terbitnya novel-novel Iwan Simatupang, yang
secara jelas mempunyai wawasan estetika novel tersendiri, lalu teater karya
Rendra serta puisi milik Khotbah dan Nyayian Angsa, menjadi bukti semakin nyata
dalam wawasan estetika perpuisian Sutardji Calzoum Bachri, dan cerpen-cerpen
dari Danarto, seperti Godlob, Rintik, dan sebagainya.
Pada periode ‘70-an pengarang berusaha
melakukan eksperimen untuk mencoba batas-batas kemungkinan bentuk, baik prosa, puisi,
dan drama semakin terlihat tidak jelas. Misalnya, prosa dalam bentuk cerpen,
pengarang yang membuat cerpen dengan panjang hanya 1-2 kalimat saja sehingga
terlihat seperti bentuk sajak. Dalam bidang drama mereka mulai menulis dan
mempertunjukkan drama yang absurd atau tidak masuk akal. Sedangkan dalam bidang
puisi, mulai ada puisi kontemporer atau puisi selindro.
Periode 70-an telah banyak
memperlihatkan pembaharuan dalam berbagai bidang seperti wawasan estetik,
pandangan, sikap hidup, dan orientasi budaya. Para sastrawan tidak mengabaikan
sesuatu yang bersifat tradisional bahkan berusahan untuk menjadikannya sebagai titik
tolak dalam menghsilkan karya sastra modern.
8. Peristiwa
yang melatarbelakangi sastra angkatan ’80-an
Sastra Angkatan
‘80-an banyak diwarnai dengan aturan-aturan yang ketat dan dipengaruhi oleh
kegiatan politik dalam proses kelahirannya. Angkatan ‘80-an lahir pada masa
pemerintahan Soeharto era Orde Baru. Soeharto pada masa itu masih menduduki
suatu jabatan di militer dan sebagai presiden Republik Indonesia, sehingga pemerintahannya
sangat kokoh dengan perlindungan dari militer. Era Orde Baru mempunyai ciri
yaitu semua keputusan berporos pada presiden dan hak bersuara sangat dibatasi.
Ketika ada sebuah karya yang sifatnya dianggap provokasi, mengancam,
melecehkan, menyinggung dan merugikan maka akan langsung ditindaklanjuti oleh
Soeharto dengan segera. Contohnya adalah majalah Djaja yang terkenal waktu itu
berhenti terbit, padahal majalah tersebut memuat masalah-masalah budaya bangsa
dan kesenian Indonesia.
Kelahiran periode
‘80-an bersifat mendobrak keberadaan yang dilahirkan dari konsepsi individual
yang mengacu pada satu wawasan kelompok. Setelah melewati ujian bertahun-tahun,
kata bukanlah alat pengantar pengertian, tetapi adalah pengertian itu sendiri.
Kata bebas menentukan diri sendiri, bebas dari penjajahan dan bebas dari
ide-ide.
9. Peristiwa
yang melatarbelakangi sastra angkatan 2000-an
Sekarang telah
lahir Angkatan 2000, buku yang
disusun leh Konie LaFn Rampan
merupakan bukti hadimya
corak baru dalam dunia Sastra
lndonesia. Pe*embangan yang menarik dari
Mgkatan ini lampak
dari perluasan dan pendalaman wawasan
esletik baru, dalarn penggarapan
materi oleh penyair. Afrizal menyajikan bahan dan
bentuk yang orisinal dalam
tataran estetika Angkatan 2000
pada penciptaan amnsemental. Ada
perubahan struktur tipografis
yang membawa perubahan pada komposisi
yang dibangun dengan tanda-tanda dan penanda kompositoris. Estetika komposisi dibangun
dalam pengaturan panisipasi benda-benda,
peristiw4 pertanyaan, aku lirik
dan pikiran yang diaransemen
di dalarn perfeksi yang
sejajar dan obyektif. Sederetan penulis telah menjadiwarga Angkatan 2Q00
bersama Afrizal.
Perkayaan angkatan
ini ditandaioleh meluas dan mendalamnya materi yang digarap oleh
penyair, sehingga melahirkan wawasan
enetik baru atau memperluas wawasan estetik yang relah ada'.
Karya-karys mereka memiliki kesinambungan dengan
wawasan €stetik Chairil
Anwar, meski tidak semendalam Chairil
dalam estetik religiusitas yang mencirikan
seorang pencari dalam ruang-ruang
indah keagamaan seperti dalam
puisi Dge dan
ISA. Nama- nama sep€rti Ahmadun Soni Farid Maulana, Acap Zamzam
Noor, Dorothea Rosa Herliany, Agus R.
Sarjono adalah sebagian kecil dari
penyaf angkatan 2000.
10. Kesimpulan dari periodisasi sastra Indonesia
Ditilik dari urutan periode dari waktu
ke waktu, sastra indonesia terus menerus mengalami peningkatan. Hal ini dapat
kita lihat dalam karya-karya para pengarang yang banyak mengandung nilai-nilai
sosial dan politik. Tidak sampai di situ, sastra Indonesia menjadi salah satu
tonggak pedoman kehidupan yang merdeka. Ketika tragedi G30S, para pengarang
banyak turun untuk menuntut, kejadian ini dapat membuktikan bahwasannya sastra
bukan hanya sekedar baca atau tulis.
KEPUSTAKAAN
Rismawati. 2017. Perkembangan Sejarah
Sastra Indonesia. Penerbit Bina Karya Akademika. Banda Aceh.
Dra. Zulfahnur Z.F. M.Pd. Modul
Pembelajaran Sastra. PBIN4104-M1
Katrini, Yulia Esti. Periode dan
Angkatan Dalam Sejarah Sastra Indonesia. Vol. 23, No.2, 15 September 2006
(Tahun ke 12) : 233-240.
Post a Comment