Light Fiction
TAK KUSANGKA......
Cerah. Pagi itu semua awan yang membungkus
setiap kelam hampir-hampir tidak meninggalkan corak dan bekas yang terlalu
berlebih. Segar dan kesejukan yang sangat mendukung untuk aktivitasku hari ini.
Semua pasti begitu indah dan berwarna. Harapku.
Berangkatlah aku ke kampus untuk menuntut ilmu
dan menghadiri tujuanku berada di sini. Daun pintu kelas masih terbuka
menandakan masih lega terasa sebab jika dosen sudah datang dan pasti pintu
telah terkunci rapat dan tak membiarkan siapa saja mengganggu kuliahnya. Sikap
dosen yang membuat semua orang kesal.
Aku duduk di pojok kanan kelas paling belakang.
Sambil menunggu dia datang kubuka benda keramatku untuk melihat
postingan-postingan menarik di Instagram. Mataku terbelalak memenuhi seisi
layar smartphone. Benda keramat.
Sepuluh menit berlalu kelas masih lengang
dengan mahasiswa yang menunggu kedatangan dosen. Ketika itu terdapat sedikit
keganjilan dalam diriku, akan tetapi aku hanya mencoba untuk nyaman.
Lima belas menit berlalu. Sang dosen Killer masih entah di mana raganya.
Membuat rasa keganjilan itu semakin meledak-ledak dan memaksa terus memaksa
untuk keluar. Aku pun masih mencoba untuk bertahan dan menahan. Hingga perasaan
ini begitu kuat dan benteng pertahanan mulai dibobol. Aku enggak kuat.
Kuputuskan keluar dari kelas dan segera menuju
tempat keramat. Sedikit jijik saat pandang pertama dan mual saat hembusan
pertama. Sesak di dada pun menghapus semua perasaan itu. “Pasti gara-gara makan
gorengan kemarin ini” gumamku kesal dan ku lanjutkan prosesinya.
Kaki mulai melangkah lalu menutup pintu yang
terbuka. Setelah tertutup prosesi berjalan lancar dan memberi sedikit ruang
untuk perasaan lega dari apa yang tertahan.
Lamat-lamat kulepaskan kenanganku bersamanya
tadi malam. Ketika sentuhan bibir dan nikmatnya cita rasa itu luruh kedalam
sebuah tempat yang aman dan seharusnya. Tiga menit aku masih menjalani prosesi
itu.
“Aaaaghhhrrr” seorang wanita teriak dengan
kencang.
Sontak aku terhenyak dari kenikmatan dunia itu
dan melirik dengan keterkejutan yang luar biasa. Apa sebab gerangan dia
berteriak?
Jelas saja, saat aku memutar pandangan 180
derajat kulihat seorang wanita yang tangannya menutup wajahnya.
Tak kusangka, pintu yang seharusnya sudah aku
tutup tersipuh dan membuat ruang pandang. Bergegas aku tutup daun pintu dan
memperbaiki posisi. Sembari menahan malu dan panik wanita itu kabur dan hilang
entah kemana.
“What the hell?” gumamku yang tadinya sedang
asyik memadu sebuah proses yang harusnya lancar.
Dasar wanita ceroboh, sudah tahu toilet untuk
pria tapi masih saja nyelonong masuk.
Sudah tidak salam atau permisi, malah berteriak mengejutkanku.
*****
Ternyata dosen hari ini tidak masuk karena
sedang pergi keluar kota untuk melakukan sesuatu hal. Kutatap layar handphone
lagi untuk mencoba mengalihkan pikiran dari sebuah momen yang benar-benar
menjanjikan sebuah aib. Akhirnya aku nyengir-nyengir
sendiri di pojokan kelas dan memikirkan yang terjadi barusan.
“Untung saja dosen tidak masuk. Aihh, dasar
wanita ceroboh,” gumamku sedikit kesal menahan rasa malu. Aku malu karena saat
itu aku yang jadi sebuah sorotan sepasang mata yang berteriak menolak untuk
melihat.
Waktu berakhirnya untuk kuliah tiba. Kubereskan
segala benda di hadapanku dan segera meninggalkan ruangan yang menjadi saksi
bisu betapa malunya aku. Benar-benar membuatku histeris dan memalukan.
Untung saja posisiku membelakangi, jadi senjata
turun-temurun tidak begitu terpampang dalam ingatannya. Karena pasti itu adalah
pengalaman yang buruk juga baginya. Berjalan pulang pun aku senyum-senyum
sendiri.
Ketika menuruni anak tangga untuk turun menuju
lantai bawah. Sekilas aku memandang sebuah tulisan yang terpampang di depan
pintunya. Tulisan itu terpajang di atas pintu yang aku masuki tadi.
Sungguh memalukan, tulisan itu membuatku
semakin tak menentu pikiran yang ada di kepalaku. Tulisan itu yang harusnya aku
baca sebelum masuk ke dalamnya. Tulisan itu adalah “WANITA”.
Hahahahaha....
Semuanya pasti gara-gara tadi malam. Ketika
pesta kelulusan kakak senior. Aku terlalu banyak makan. Sehingga terjadi sebuah
kontroversi dalam tindakanku.
Sungguh memalukan....
Post a Comment