iklan

loading...

4 CARA MENGANALISIS PUISI SERTA MEMAHAMI MAKNA PUISI | FERIBLOGIXNEW



Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Sebelumnya terima kasih kepada saudara-saudara sekalian yang mau dan sudi untuk mampir di blog saya yang sederhana ini. Pada kesempatan kali ini saya akan berbagi sebuah informasi tentang kepenulisan, yaitu tentang puisi.

Bagaimanakah cara kita memahami puisi? Setiap orang memang memiliki taraf kemampuan yang berbeda-beda dalam memahami puisi, sebab sebuah puisi itu memiliki dua makna yaitu makna denotasi dan makna konotasi. Makna Denotasi makna yang secara harfiah dan umum kita pahami, sedangkan makna Konotasi adalah makna yang bukan sebenarnya atau sebuah kata, frase, atau klausa yang maknanya sedikit ganjil dan berbeda dari umumnya. Oleh karena hal itulah, dalam memahami dan menganalisi puisi membutuhkan cara dan metode tersendiri.

Berikut ini saya mencoba untuk berbagi pengalaman saya dan tips-tips dalam menganalisis sebuah puisi dengan memahami petunjuk-petunjuk yang terdapat dalam puisi.

 

1. Cara Pertama Dengan Memperhatikan Judulnya

Judul merupakan sebuah kunci ketika ingin memahami puisi secara keseluruhan dan utuh makna puisi tersebut. Dengan kunci itu, maka isi yang ada di baliknya akan dengan lebih mudah untuk meraihnya. Ibarat kata, seorang yang hendak mengetahui isi dari sebuah peti maka dibutuhkan kunci untuk bisa membuka pengunci dari peti itu agar bisa dengan leluasan melihatnya secara keseluruhan. 

Judul biasanya menggambarkan secara keseluruhan makna dari sebuah puisi, karena judul fungsinya sebagai identiti atau cap terhadap puisi tersebut. Judul juga dapat memunculkan suatu keunikan dari puisi tersebut. Jadi, hanya dengan melihat dan memahami judul sudah dapat memberikan kita gambaran keseluruhan makna atau keunikan sebuah puisi tersebut. Perhatikan contoh!


AKU

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap merajang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih perih
Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

(Chairil Anwar)

Puisi itu berjudul “Aku”. “Aku” merupakan sebuah kata ganti untuk melihatkan dan menggambarkan diri sendiri. “Aku adalah kata ganti yang paling tepat untuk memperlihatkan sebuah keindividualismean.

2. Cara Kedua Dengan Memperhatikan Kata-kata Dominan


Cara yang ke dua ketika hendak menemukan makna puisi adalah dengan memperhatikan kata-kata yang mendominasi dan sering diulang-ulang dalam puisi tersebut. Pengaruh kata-kata diminan adalah ia mampu memberikan suasana yang mendominasi dalam sebuah puisi. Perhatikan contoh berikut

1970-an

Lapar aku, aku makan. Kumakan buah segala buah
Segala padi segala ubi
Kumakan sayur segala sayur. Segala daun segala rumput
Kumakan ikan. Ktam. Utang, kerang.
Kumakan kuda
Ayam. Sapi. Kambing. Babi. Tikus. Bekicot
Aku lapar. Lapar lagi!
Kumakan angin
Kumakan mimpi
Kumakan pil
Kumakan kuman
Kumakan tanah
Kumakan laut
Kumakan mesiu
Kumakan bom
Kumakan bulan
Dan bintang dan matahari!
Kumakan mimpimu
Rencanamu
Tanganmu. Kakimu
Kepalamu
Astaga. Kumakan tanganku
Dan kakiku. Dan kepalaku
Dan hah, kumakan Kamu!

(Abrar Yusra)

Kata-kata yang mendominasi dalam puisi itu adalah ‘lapar’ dan ‘makan’ jika dilihat dari jumlah pemakaiannya. Manusia menjadi lapar dan akhirnya memakan apa saja yang ada di hadapannya. Mulai fllora, fauna sesuatu yang abstrak, milik orang lain, anggota tubuh sendiri, akhirnya memakan Tuhan (Kamu). Maka dari puisi di atas dapat disimpulkan bahwa sifat manusia yang penuh dengan kenaifan. Kata ‘lapar’ yang berhubungan nafsu dan ‘makan’ adalah cara agar lapar itu hilang atau sebagai pemuas nafsu, sehingga manusia digambarkan menjadi makhluk yang akan menurut pada nafsunya terus menerus agar bisa terpuaskan.

 
3. Cara Ketiga Dengan Menyelami Makna Konotatif


Bahasa puisi merupakan bahasa yang melampaui pembatas makna yang lazim dan harfiah, dengan kata lain sifat kebahasan puisi memiliki makna yang butuh pemahaman dan renungan agar bisa menjemput makna puisi tersebut. Makna yang tidak lazim ini disebut dengan makna konotatif yang nantinya akan membentuk suatu imaji atau citra tertentu di dalam sebuah puisi.
Makna konotatif pada umumnya dibentuk oleh pemakaian tiga jenis majas yaitu majas perbandingan (metafora, kiasan, personifikasi, analogi, umpamaan), majas pertentangan (ironi, hiperbola, litotes), dan majas pertautan (metanini, sinedoke, eufemisme). Dalam memaknai makna konotatif, kita juga tidak bisa semena-mena dalam memaknainya harus sesuai dengan makna konotatif yang berlaku umum, seperti kata ‘bulan purnama’ adalah lambang keindahan, ‘kerbau’ punya konotasi kuat tapi bodoh.

Malam Lebaran
Bulan di atas kuburan

(Sitor Situmorang)


Kalau dilihat dari logikanya, apa yang dinyatakan dari puisi tersebut adalah mustahil. Sangat tidak mungkin bulan itu muncul ketika malam lebaran, karena malam lebaran tanggal 1 syawal dan bulan memang belum terlihat, apalah lagi di atas kuburan. Maka, “malam lebaran” di sini diartikan dengan suatu suasana kegembiraan, hari raya di mana semua orang berbahagia dengan sebuah pesta perayaan. Namun, penyair selanjutnya meletakkan bulan di atas kuburan di mana melambangkan suatu kedukaan, tragedi, kesedihan atau musibah. Puisi ini menyatakan sebuah peristiwa yang seharusnya bergembira dan berbahagia, akan tetapi berubah menjadi sebuah kedukaan.


4. Cara Keempat Dengan Menemukan Makna Dalam Larik Yang Sesuai Dengan Struktur Bahasa


Ketika mencari makna yang terungkap di dalam baris atau bait puisi, maka makna yang lebih benar adalah makna yang sesuai dengan struktur bahasa. Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut

PERAHU KERTAS

Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu
kertas dan kau layarkan di tepi kali; alirnya sangat
tenang, dan perahumu bergoyang menuju lautan
“Ia akan singgah di bandar-bandar besar”, kata seorang
lelaki tua. Kau sangat gembira, pulang dengan
berbagai gambar warna-warni di kepala. Sejak itu
kau pun menunggu kalau-kalau ada kabar dari
perahu yang tak pernah lepas dari rindumu itu.
Akhirnya kau dengar juga pesan si tua itu, Nuh,
katanya, “Telah kupergunakan perahumu itu
dalam sebuah banjir besar dan kini terdampar
di sebuah bukit”.

Lihatlah bait 3, di sana tertera kata “itu” sesudah kata “Si tua?” karena orang itu juga sudah pernah di sebut sebelumnya (bait 2). Siapa “si tua” itu? Si tua itu adalah Nuh.

Berdasarkan struktur ada kata “itu” sesudah “si tua”, dan “Nuh” orangnya adalah sama. Dengan struktur bahasa yang benar, maka makna puisi itu mudah untuk dipahami.

No comments