[LAPORAN BACAAN] Analisis Kumpulan puisi Karya Hasannudin WS YANG BERJUDUL LAUT TAK BERBATAS
BAB I
PENDAHULUAN
1.
Identitas Buku
Sampul
depan
1.1.
Judul Buku : Laut Tak Terbatas
1.2.
Pengarang : Hasanuddin WS
1.3.
Penerbit : Angkasa
1.4.
Tahun Terbit : Tahun 1997
1.5.
Cetakan Pertama : Tahun
1997
1.6.
Edisi Revisi : Tahun 2007
1.7.
Penyunting : Tim Penyunting Angkasa
1.8.
Ilustrasi : Tim Ilustrator Angkasa
1.9.
Desain Sampul : I Gusti Putu Oka
1.10.
Tata Letak : Tim Artistik Angkasa
1.11.
Dicetak Oleh : Percetakan Angkasa
1.12.
Tebal Buku : 63 Halaman
1.13.
Jumlah Puisi : 50 Judul
1.14.
ISBN : 978 – 979 – 665 – 475 – 8
2.
Tentang
Pengarang
Hasanuddin WS,
seorang lelaki yang memiliki kegemaran menulis sajak ini lahir di Tanjung
Pinang, Kepulauan Riau. Baginya siapa saja bisa dan berhak dalam menciptakan
sajak, bukan hanya seorang penyair. Partisipasinya dalam menulis sajak
merupakan alternatif dari sebagian rutinitasnya, karena beliau memiliki fokus
utama yaitu sebagai pengembang ilmu dan pengajar.
Sejak dulu ia membantah bahwa dirinya seorang penyair, sebab
menurutnya menjadi seorang penyair bukan merupakan persoalan yang mudah. Hal
ini membutuhkan keuletan dan ketekunan yang besar dalam merintis dunia
persajakan. Maka dari itu beliau tidak berani memfokuskan diri untuk menjadi
seorang penyair.
Selain menulis sajak, beliau juga sesekali memuat karya prosanya
berbentuk cerita pendek pada surat-surat kabar, seperti harian Haluan,
Singgalang, Semangat, Pelita, dan Majalah Horison. Beliau juga mempublikasikan
artikel ilmiahnya di berbagai jurnal-jurnal. Mempresentasikan makalah di hampir
setiap kali penyelenggaraan Seminar Pertemuan Ilmiah Nasional Himpunan
Sarjana-Kesusastraan Indonesia.
BAB II
GAMBARAN PUISI DALAM BUKU KUMPULAN PUISI ‘LAUT
TAK TERBATAS’
1.
Hubungan Judul
Dengan Kumpulan Puisi
Entah apa yang
ada pada benak seorang Hasanuddin WS saat memberikan judul kumpulan puisinya
ini. Akan tetapi, saya mencoba untuk memberikan pandangan setelah membacanya.
‘Laut Tak Berbatas’ merupakan kumpulan puisi miliknya yang tersebar dari kurun
waktu antara tahun 1986 sampai 1997. Ketika membaca puisi-puisi di dalamnya,
terdapat suatu elemen yang membuat pembaca tanpa sadar mengangguk-angguk seperti
ada pencerah yang turun bersamanya. Salah satunya adalah puisi berikut!
ADA
Ada yang tak mungkin kau ucapkan
Ketika rasa sampai puncak
Ada yang tak mungkin kau pkirkan
Walau tanya ribuan tumpak
Ada yang tak lagi mungkin
tersisihkan
Kenanganmu abadi nan elok retak
Ada yang tak lagi mungkin
tertahankan
Rindumu tajam menghela lantak
Tetapi
Ada lagi yang mesti kau lafazkan
Dalam detik dan detak
Ketika nyawamu regangkan lepas
disentak
(Hasanuddin WS, 1989)
Puisi yang berjudul ‘Ada’ itu mencoba memberitahukan pada pembaca
ketika seseorang yang hendak dicabut nyawanya, ada hal-hal yang wajib dilakukan
oleh orang tersebut. Dari bait pertama sampai bait keempat penulis penyair
mencoba untuk menggambarkan pada pembacanya bahwa kehidupan dunia seseorang
pasti akan berakhir dan segala hal yang ada dunianya dulu pasti akan
ditinggalkan. Jadi, kata ada di sini merujuk pada satu hal di mana kembalinya
kita dari dunia ini.
Dari salah satu
puisi di atas, kita dapat mengetahui apa sebenarnya kaitan judul dan kumpulan
puisi-puisi adalah kuasa dari Sang Pencipta itu tidak memiliki batas. Kemudian,
puisi-puisi di dalam buku tersebut sangat erat kaitannya dengan pola kehidupan
manusia dan ketergantungan manusia terhadap Tuhannya. Oleh karena itu, penyair
mencoba memposisikan Tuhan yang tidak mempunyai batasan-batasan seperti laut
yang luasnya tidak berbatas.
2.
Puisi-Puisi
dalam Antologi Puisi ‘Laut Tak Berbatas’
KETIKA
Lihatlah
Ketika
kebisingan tak lagi mengusik
Bisu
menjadi lebih nikmat. Kita
Semakin
berhasrat berteriak dalam diam. Diam
Dan
ketiak bisu semakin lengang dalam senyap
Dengarlah
gaung mengoyak rabak
Mengantar
sukma
Bertahta
Sampai
meraja
Di
liang
Jiwa
1989
MEDITASI
Mestikah
kita kenang pengorbanan
Sia-sia
ini. berdiri
Menghitung
jari bagai masa kanak
Coba
memilah salah dan benar
Yang
batasnya entah. Lalu
Kita
pun bersejingkat antara
Takut
dan malu mengintip sorga
Yang
kabur dan kacau suaranya. Kita
Telah
terjebak dalam kebisingan
Suara
yang gebalau
Yang
kemudian menggiring kita
Sampai
terdampar
Di
tempat
Ini
MAKA
Hujan
Tak
lagi turun sambil berdendang
Pada
musim-musim
Dan
nasib
Semakin
tak bisa dihitung
Hitung
Kan
1986
AINUL ADDINNA
Kita
menimbun hari-hari yang mengalir pecah
Lalu
dalam diam menggali lahat sejengkal
Sejengkal
sampai tuntas wajah maut
Yang
terus mengintai
Dalam
janji kita
Kita
Ainul
addinna
1990
KUBUR I
Mengintai
ajal yang mengendap
Endap
pada almanak
Tinggal
sehari
Mencekik
sekali
Dan
lahat semakin menganga jua
Ajal
yang mengendap
Mengerat
usia hari ke hari
Sampai
kita habis
Dan
kau terpana ketika
Rumahmu
berkata pergi sedang
Kuburmu
berkata mari
1989
KUBUR II
Sekuntum
kamboja gugur. Aku mengeja
Nama
dan tanggalmu pada nisan ini
Tinggal
aroma kembang,
Sedikit
tangis dan doa
Sekuntum
kamboja gugur. Hujan
Melengkapi
dan tanah semakin merah
Aku
menggigil kejang
Ketika
tiba-tiba nama dan tanggalku
Dieja
orang
Di
sini
1989
SAYAT
Semakin
menganga nganga
Dan
merah darah
Mengucur
Merambah
segala rasa
1986
INTERLUDE
Turunkan
tangan yang teracung
Pesta
telah usai dan
Selesai
1988
YANG TERSISA
Percakapan
ini menyisakan ketakutan
Yang
tak sempat kubungkus
Lihatlah
Angin
telah menerbangkannya kini
Mengapa
tak kau titip pesan
Sebelum
tingkap dan pintu kugepuh
Perjanjian
ini menyisakan penghianatan
Selalu
dendangnya terdengar hingga tengah malam
Lihatlah
Terkubur
keberanianmu untuk bersijingkat
Mengintip
surga
Perpisahan
ini menyisakan tanda tanya
Yang
sama tak hendak kita jawab
Lihatlah
Kita
tetap membiarkannya
Mengapung
sendirian
Di
gulita laut tanpa sauh
1993
BAB III
KOMENTAR PENULIS
1.
Pengertian
Puisi
Sejak dahulu sampai sekarang, orang-orang masih belum bisa
memberikan pengertian terhadap puisi secara tepat, akan tetapi untuk memahaminy
perlu diketahui secara kilas sekitaran puisi.
Secara etimologis istilah puisi berasal dari kata bahasa Yunani poites,
yang berarti pembangun, pembentuk, pembuat. Dalam bahasa Latin dari kata poeta,
yang artinya membangun, menyebabkan, menimbulkan, menyair.
Wiejosoedarmo (Pradopo, 1993
: 5) mengatakan “Puisi itu karangan yang terikat oleh: (1) banyak baris dalam
tiap bait (kuplet/strofa, suku karangan); (2) banyak kata dalam tiap baris; (3)
banyak suku kata dalam tiap baris; (4) rima; (5) irama.”
Altenbernd (Pradopo, 1993
: 5) mengemukakan bahwa puisi adalah pendramaan pengalaman yang besifat
penafsiran (menafsirkan) dalam bahasa berirama (bermetrum).”
Samuel Taylor Coleridge
(Suryaman & Wiyatmi, 2013 : 16) menyatakan “Puisi adalah kata yang terindah
dalam susunan terindah. Penyair memilih kata-kata yang setepatnya dan disusun
secara sebaik-baiknya, misalnya seimbang, simetris, antara satu unsur dengan
unsur lain sangat erat hubungannya, dan sebagainya.”
Slamet Muljana (dalam skripsi Putry, 2014 : 10) membedakan antara
prosa dan puisi sebagai berikut:
1.1.
Kesatuan-kesatuan
korespondensi prosa yang pokok ialah kesatuansintaksis; kesatuan korespondensi
puisi resminya bukan sintaksisnya kesatuan akustis.
1.2.
Di dalam puisi korespondensi
dari corak tertentu, yang terdiri dari kesatuan-kesatuan tertentu pula,
meliputi seluruh puisi dari semula sampai akhir.
1.3.
Di dalam baris
sajak ada periodisitas dari mula sampai akhir. Maka kesimpulannya puisi adalah
suatu pembentukan pengalaman seseorang yang memerlukan suatu perenungan dan
penafsiran dengan memulainya dengan pemilihan kata-kata yang tepat dan disusun
dengan kata, baris dan bait yang mana di dalamnya terdapat tataran bunyi-bunyi
yang berupa rima dan irama.
2.
Jenis-jenis
Puisi
Dalam perkembangan seni sastra, keberagama puisi semakin banyak
muncul dan memberikan wujud baru dalam bentuk-bentuk puisi tersebut. Menurut
perkembangan sejarah sastra di Indonesia, ada tiga jenis puisi, yaitu puisi
lama, puisi modern, dan puisi mutakhir.
2.1
Puisi Lama
Puisi lama adalah puisi yang dalam pembuatannya sangat terikat
dengan kaidah-kaidah dan aturan-aturan dalam menulis sajak yang dimulai dari
baris, bait, rima dan irama. Yang termasuk kedalam puisi lama antara lain
mantera, pantun, talibun, syair, dan gurindam. Contoh salah satu puisi lama!
Gurindam Dua Belas
Barang siapa tiada memegang agama
Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama
Barang siapa mengenal yang empat
Maka ia itulah orang makrifat
Barang siapa mengenal Allah
Suruh dan tegaknya tiada ia menyalah
Barang siapa mengenal diri
Maka telah mengenal akan Tuhan yang Bahari
Barang siapa mengenal dunia
Tahulah ia barang yang terperdaya
Barang siapa mengenal akhirat
Tahulah ia dunia mudarat
(Djamaris, dalam Setyawati, 2004: 220).
2.2
Puisi Baru
Puisi baru adalah puisi yang sudah lebih bebas dari puisi lama.
Puisi baru memiliki sedikit kesamaan dengan puisi lama, akan tetapi di dalam
puisi baru penyair lebih dapat dengan bebas mencurahkan segala perasaan yang
terpendam dari hati yang paling dalam. Puisi baru memilik beberapa aturan dalam
penulisannya, namun kaidah tersebut tidak begitu mengekang para penyair dalam
berpuisi. Beberapa kasus penyair puisi baru dapat dengan leluasa mengatur
posisi sajak, jumlah baris dalam bait, dan jumlah bait dalam suatu puisi.
Contoh puisi baru!
MERAH
aku suka kepada merah
karena mengingat kepada darah
yang berteriak ke arah sawang
merebut terang
darah mengalir
waktu lahir
darah mengalir
waktu akhir
darah
getar bumi
membeku
pada aku
dalam darah
berbayang
nyawa
pucat bagai siang
(Subagio Sastrowardoyo)
2.3
Puisi Mutakhir
Puisi mutakhir adalah puisi yang memiliki kebebasan yang lebih
bebas lagi dari jenis sebelumnya. Puisi Mutakhir membuat penyair sesuka hati
dalam menata dan menyusun sajak-sajak puisi. Puisi mutakhir pada umumnya lebih
terfokus pada tipografi atau tataletak dalam pembuatannya. Contoh puisi
mutakhir!
TIANG
RINDU
Terima kasih dan hormat pada SCB
Yang tak bumi
Yang tak
langit
Yang tak laut
Yang tak darat
Tak
Yang tak danau
Yang tak
sungai
Yang tak mawar
Yang tak duri
Tak
Yang
tak
Tak
kan dapat gantung tadahkan luap rindumu
Yang
tak
Tak
kan sanggup tangkap dekapan ruah rindumu
Maka
Pada
tak kau berteriak
Pada
tak kau berseru Ou
Laut yang ombak
Labuhkan rindunya pada pantaimu
Sungai yang alir iringi
Rindunya
sampai hilirmu
Danau yang terbentang
hamparkan
Rindunya pada riakmu dan
Air
yang rahman dan rahim
Larutkan
rindunya
Embunkan
dan kemudian biarkan
Mengkristal
pada
Langit
Berkah-Nya
(Hasanuddin WS, 1988)
3.
Struktur Puisi
Dalam sebuah puisi terdapat beberapa unsur yang membangun puisi
tersebut. Terdapat 2 struktur yang membangun puisi, yaitu struktur fisik dan
struktur batin. Struktur fisik ialah struktur yang secara keseluruhannya
menjadi wujud penampang dari puisi tersebut, struktur inilah yang biasanya
secara jelas dibaca oleh para pembaca. Struktur ini pada umumnya terdiri atas
wujud, diksi, gaya bahasa dan citraan. Sedangakan struktur batin, ialah
struktur yang membangun suatu puisi dari dalam puisi dan bersifat tidak kasat
mata atau diperlukan beberapa hal untuk bisa mendapati dan melihat struktur
ini. Struktur batin terdiri atas tema, nada, suasana dan pesan atau amanat yang
tersirat.
3.1
Struktur Fisik
3.1.1
Diksi
Atar Semi
(dalam skripsi Hariningtyas, 2011 : 11) mengjelaskan bahwa diksi merupakan
pemilihan kata. Hikmat, dkk (dalam buku mereka, 2017 : 36) juga mengungkapkan
bahwa diksi merupakan segala hal yang berkaitan dengan pemilihan kata yang
dilakukan oleh penyair dalam menyajikan puisinya. Diksi akan sangat membantu
dalam menyampaikan perasaan sang penyair pada pembacanya secara emosional. Pradopo
(1993 : 54) mengemukakan bahwa diksi itu untuk mendapatkan kepuititsan, dan
untuk mendapatkan nilai estetik. Jadi, dengan kata lain diksi merupakan suatu
teknik dalam memilih kata untuk menciptakan kepuitisan dan nilai estetik pada
puisi. Sebagai contoh pada puisi berikut :
KUBUR II
Sekuntum kamboja gugur. Aku mengeja
nama dan tanggalmu pada nisa ini
Tinggal aroma kembang,
sedikit tangis dan doa
Sekuntum kamboja gugur. Hujan
melengkapi dan tanah semakin merah
Aku menggigil kejang
ketika tiba-tiba nama dan tanggalku
dieja orang
di sini
(Hasanuddin WS, 1989)
Pada puisi di
atas, kita perhatikan bahwa terdapat beberapa hal yang menarik dan terkait
dengan diksi, yaitu pertama pada kata ‘mengeja’ di mana maknanya adalah membaca
atau melafalkan huruf satu demi satu. Mari kita bandingkan jika kata yang
penyair gunakan adalah kata ‘membaca’ saja, maka rasa suasana puisi akan sulit
untuk diresapi. Oleh karena itu, penggunaan diksi dalam berpuisi adalah
sangat-sangat berpengaruh pada setiap unsur puisi dan hasil dari puisi yang
dibuat.
3.1.2
Pengimajian
Herman J. Waluyo (skripsi Hariningtyas, 2011 : 12) menyatakan bahwa
pengimajian adalah kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan
pengalaman sensoris, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Dari
definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa pengimajian merupakan unsur pada
puisi yang dapat memeberikan para pembaca suatu pengalaman-pengalaman sensoris.
Contoh puisi
ADA
Ada yang tak mungkin kau ucapkan
Ketika rasa sampai ke puncak
Ada yang tak mungkin kau pikirkan
Walau tanya ribuan tumpak
Ada yang tak lagi mungkin tersisihkan
Kenanganmu abadi nan elok retak
Ada yang tak lagi mungkin tertahankan
Rindumu tajam menghela lantak
Tetapi
Ada lagi yang mesti kau lafazkan
Dalam detik dan detak
Ketika nyawamu regangkan lepas disentak
(Hasanuddin WS, 1989)
Dari puisi di atas, letak pengimajiannya akan lebih terasa pada
bait keenam, baris ketiga, yaitu ‘ketika nyawamu regangkan lepas disentak’.
Pengalaman yang penyair coba sampaikan lewat pengimajiannya adalah ketika
seseorang berada pada kondisi sakaratul maut. Jadi, saat dihubungkan dengan
judul, maka penyair ingin mengatakan bahwa ketika kematian di depan mata dan
nyawa sudah di ujung rambut, ada hal yang harus kita lakukan untuk terakhir
kalinya yaitu mengucapkan kalimat syahadat.
3.1.3
Kata Konkret
H. J. Waluyo (skripsi Hariningtyas, 2011 : 13) mengungkapkan bahwa
setiap penyair berusaha mengonkretkan hal yang ingin dikemukakan. Hal ini
ditujukan agar para pembaca dapat membayangkan puisi lebih hidup. Kata konkret
biasanya berbentuk kata yang akan menjadi kata fokus bagi pembaca agar dapat
memunculkan imaji. Misalnya kata konkret “salju” yang melambangkan kebekuan
cinta, kehampaan hidup, dan lain-lain. Contoh lain ada pada puisi Chairil Anwar
yang berbunyi aku ini binatang jalang dari kumpulannya terbuang. Dari
cuplikan itu dapat dikonkretkan bahwa usaha penyair yang ingin sikap
kebebasannya.
Contoh puisi
Kubah I
Rumah ini memang seperti
tak bertuan, tapi
kau dapat mengetuk pintunya lantas
mengucap salam
dan
ah!
Kau seperti menemukan api
Dalam pekat
Di rumah ini
Di kubah ini
(Hasanuddin
WS, 1986)
Kita perhatikan dari puisi di atas bahwa kata konkret yang paling
menonjol ialah ‘rumah’. Saat dihubungkan dengan judul, rumah yang ramai
dikunjungi orang-orang untuk datang dan mengucap salam dan rumah yang memiliki
kubah biasanya diidentikkan dengan
bangunan yang disebut ‘masjid’. Jadi, kata konkret ‘rumah’ dan ‘kubah’ telah
membiarkan pembacanya menghidupkan puisinya menjadi bayangan-bayangan dalam
pikiran pembaca bahwa sang penyair ingin mengatakan “ini masjid, tempat kita
beribadah”.
3.1.4
Majas
Jabrohim, Suminto dan Chairul Saleh (skripsi Hariningtyas, 2011 :
13) menyatakan bahwa bahasa figuratif atau majas adalah unsur yang dipakai
untuk menghidupkan lukisan untuk lebih mengonkretkan dan lebih mengekspresikan
perasaan yang diungkapkan. Dengan kata lain, majas merupakan suatu cara untuk
mengiaskan agar makna tidak tersampaikan secara langsung. Majas ini juga
berguna untuk agar emosi yang sedang dirasakan penyair bisa lebih hidup dan
mengalir tanpa dibatasi oleh makna kata yang sebenarnya.
3.1.5
Versifikasi
Versifikasi terdiri atas rima, ritme dan metrum. Rima adalah persamaan
bunyi dalam puisi, baik di awal, tengah, atau akhir baris puisi. Ritme adalah
bentuk pengulangan bunyi, kata, frasa, dan kalimat secara berturut-turut dan
bervariasi seperti sajak akhir, asonansi, dan aliterasi. Ritma juga timbul
karena adanya tekanan-tekanan kata yang bergantian keras-lemah, dan
panjang-pendeknya. Sedangkan metrum
ialah irama yang tetap dan terbentuk karena jumlah suku kata yang sudah tetap
dan tekanannya yang tetap pula, sehingga alun suara yang naik dan turun itu
tetap saja.
3.1.6
Tipografi
Atar Semi
(skripsi Hariningtyas, 2011 : 15) mengungkapkan bahwa tipografi disebut juga
ukiran bentuk. Tipografi merupakan suatu tatanan puisi baik larik, bait,
kalimat, frase, kata, dan bunyi, sehingga dapat menciptakan sebuah bentuk fisik
dari puisi tersebut. Pada unsur ini, penyair memiliki kebebasan dalam memilih
bentuk dan wujud dari puisi tersebut, tergantung pada apa yang ia mau dan
sukai.
3.2
Struktur Batin
3.2.1. Tema
Hikmat, dkk (2017 : 59) mengatakan bahwa tema adalah gagasan pokok
penulis tentang suatu objek yang ditulisnya. H. J. Waluyo (skrisi Hariningtyas,
2011 : 15) menyatakan tema adalah gagasan pokok (subject-matter) yang
dikemukakan penyair melalui puisinya. Maka, dari definisi diatas dapat
dikatakan bahwa tema merupakan suatu hal inti atau pusat dari yang tersirat
dari puisi. Tema akan tergambar dalam puisi secara keseluruhan di setiap kata,
larik, dan bait. Oleh karena itu, dengan tema penyair akan dapat lebih mudah
dalam menyampaikan isi perasaannya.
3.2.2. Nada
Hikmat, dkk (2017 : 60) mengatakan
bahwa nada adalah ekspresi afektif penyair terhadap pembacanya dan yang
dimaksud dengan ekspresi afektif adalah sikap penyair terhadap pembacanya
seperti apa di dalam puisi yang ditulisnya. Nada biasanya berhubungan dengan
suasan dan sikap penyair terhadap pokok persoalan (feeling) dan
pembacanya (tone).
3.2.3. Perasaan
Secara harfiah, puisi adalah karya
sastra yang mewakili ekspresi pengarangnya secara gamblang. Jadi puisi di
setiap penyairnya memiliki perasaan yang berbeda-beda pula. Perasaan adalah hal
pertama yang akan didapati oleh pembaca puisi. Dapat kita mengerti bahwa jiwa
dari sebuah puisi adalah perasaan yang penyair coba tuangkan pada puisinya.
3.2.4. Amanat
Setelah pembaca mendapati perasaan dari suatu puisi, selanjutnya
adalah kesan yang akan pembaca rasakan setelah selesai membaca puisi itu. Kesan
ini disebut juga amanat atau pesan yang terkandung dalam sebuah karya sastra.
Amanat yang disimpulkan pembaca akan berhubungan dengan bagaimana cara pandang
pembaca terhadap suatu hal. Bagian amanat ini biasanya bagian yang termasuk
sulit untuk bisa dipahami secara tepat, sebab sebelum bisa mendapati amanat,
kita harus dapat memahami tema, rasa, dan nada dari suatu puisi.
4.
Analisis Puisi
Berdasarkan Strata Norma Roman Ingarden
Berdasarkan strata norma Roman Ingarden, terdapat beberapa lapis
norma yang dapat digunakan sebagai pijakan dalam menganalisi suatu puisi.
Berikut ini strata-strata (lapis-lapis) yaitu,
4.1.
Lapis Bunyi (sound
stratum)
Lapis bunyi adalah bagian dari
sebuah puisi yang dapat didengar dan berupa rangkaian bunyi-bunyi yang dibatasi
oleh jeda pendek, agak panjang, dan panjang. Suara yang dihasilkan itu haruslah
suara yang memiliki arti dan makna yang berdasarkan konvensi bahasa puisi itu
sendiri. Akan tetapi, ada perbedaan lapis bunyi pada puisi, yaitu bunyi atau
suara haruslah memiliki sifat “istimewa” dan bertujuan untuk mendapatkan efek
puitis atau nilai seni.
Contoh puisi,
JIKA
jika laut diam
tak laut berarti beku
jika sungai
hening
tak sungai berarti tenang
jika laut diam
dan sungai pun hening
anginlah yang ‘kan menghalimbubu
(Hasanuddin WS, 1988)
Pada puisi di atas,
terdapat beberapa susunan bunyi di setiap baris yang membentuk keistimewaan pada
puisi tersebut. Rangkaian bunyi itu antara lain ‘jika’ dan ‘tak’yang kemudian
menjadikan bunyi-bunyi itu berulang-ulang sehingga puisinya menjadi memiliki
rima dan irama.
4.2.
Lapis Arti (units
of meaning)
Lapis atri berupa rangkaian fonem, suku kata, kata, frase, dan
kalimat. Kemudian, terdapat pula rangkaian kalimat yang menjadi alinea, bab,
dan keseluruhan cerita atau sajak.
4.3.
Lapis Dunia
Lapis dunia dipandang dari titik pandang tertentu yang tidak perlu
untuk dinyatakan, tetapi terkandung di dalamya (implied). Pada lapis ini
tergabung beberapa unsur yang nantinya akan menjadikan Dunia pengarang adalah
ceritanya yang merupakan dunia ciptaan si pengarang.
4.4.
Lapis Metafisis
Pradopo (1993: 15)
mengatakan bahwa lapis metafisis berupa sifat-sifat metafisis (yang sublim,
yang tragis, mengerikan, atau menakutkan, dan yang suci), dengan sifat-sifat
ini seni dapat memberikan renungan (kontemplasi) kepada pembaca.
BAB IV
PENUTUP
1.
Simpulan
Sebuah puisi,
ketika dibentuk dengan unsur-unsur yang membangunnya maka puisi tersebut dapat
menjadi hidup dan memiliki beragam makna tergantung pada penafsiran pembacanya.
Pada antologi puisi karya Hasanuddin WS yang berjudul “Laut Tak Berbatas”
merupakan kumpulan puisi yang berisi berbagai pengalaman dari sang penyair. Saran-saran
kehidupan dan nasihat ada banyak terkandung di dalamnya, tidak hanya tentang
kehidupan duniawi semata, akan tetapi juga nasihat dalam hubungan dengan Tuhan.
2.
Saran
Setelah penulisan laporan buku ini,
diharapkan semua pihak,baik dari mahasiswa atau masyarakat dapat lebih mengerti
dan paham akan apresiasi puisi indonesia. Kekayaan budaya indonesia yang
termasuk di dalamnya kesusastraan akan sangat sayang jika dibiarkan
terbengkalai tanpa ada yang peduli dan menjaga.
KEPUSTAKAAN
WS, Hasanuddin.
1997. Laut Tak Berbatas. Bandung: Angkasa.
Hikmat, Ade,
dkk. 2017. Kajian Puisi. Buku Ajar tidak diterbitkan. Jakarta: FKIP
UHAMKA.
Pradopo, Djoko
Rachmat. 1993. Pengkajian Puisi: Analisis Strata Norma dan Analisis
Struktural dan Semiotik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Elfiyani.
“Analisis Puisi “Cintaku Jauh Di Pulau” Karya Chairil Anwar Dengan Pendekatan
Strata Norma”. Jurnal Edukasi Kultura.
Suyoto,
Agustina. Dasar-Dasar Analisis Puisi. Buku Ajar tidak diterbitkan.
Yogyakarta: SMA Stella Duce 2 Yogyakarta.
Hariningtyas,
Ervin. 2011. ”Analisis Struktur Kumpulan Puisi ‘Aku ini Puisi Cinta’ Karya
Abdurahman Faiz dan Kesesuaiannya sebagai Materi Pembelajaran Apresiasi Puisi
Pada Jenjang SMP. Skripsi tidak diterbitkan. Surakarta: FKIP Universitas
Sebelas Maret.
Jerman, Satra.
2014. “Analisis Unsur-unsur Struktur Batin Beberapa Puisi Dalam Antologi Puisi
“Jakarta-Berlin”. Skripsi tidak diterbitkan. MANADO: FIB UNSAM Ratulanggi.
Saptawuryandari,
Nurweni. 2013. “Analisis Semiotik Puisi Chairil Anwar”. Jurnal KANDAI
No. 01, Vol. 9, Mei 2013.
Adri. 2011.
”Analisis Puisi ‘Jika Pada Akhirnya’ Karya Husni Djamaluddin dengan Pendekatan
Semiotika”. Jurnal Metasastra Vol. 4 No. 2, Desember 2011.
Post a Comment