UNSUR DIKSI DALAM PUISI KARYA JOKO PINURBO
YANG BERJUDUL KOLAM JOKO
FERI HERDIAN
17016058
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah
Fakultas Bahasa dan Seni
Universitas Negeri Padang
ABSTRAK
Tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk mengetahui bagaimana unsur diksi dalam puisi karya Joko Pinurbo yang berjudul Kolam Joko. Selain untuk tujuan di atas, penulisan ini juga diajukan sebagai pemenuhan tugas dari dosen pengajar yaitu tugas yang terakhir untuk mata kuliah Apresiasi Puisi Indonesia. Data yang diambil oleh penulis dengan melakukan inventarisasi kata yang digunakan penyair dan daftar beberapa kata yang memiliki makna yang sama.
kata kunci : Puisi, Diksi, Joko Pinurbo,
A. Pendahuluan
Pada sajak Joko Pinurbo yang berjudul Kolam Joko terdapat unsur diksi yang cukup sulit untuk dipahami. Dalam mencoba untuk menemukan unsur diksi yang terkandung dalam puisi tersebut, penulis melakukan inventarisasi untuk menemukan kata-kata yang terdapat kediksian di dalamnya. Tujuan dari penulisan artikel ini yaitu sebagai sarana dalam menganalisis unsur diksi yang terdapat di puisi tersebut.
Pradopo (1993 : 54) mengatakan bahwa diksi itu untuk mendapatkan kepuitisan, untuk mendapatkan nilai estetik. Diksi atau pemilihan kata merupakan proses bagi seorang penyair dalam memilih dan menetapkan suatu kata yang akan disisipkan dalam puisinya. Hasanuddin WS juga mengemukakan (2001 : 98) bahwa diski merupakan kegiatan memilih kata setepat mungkin untuk mengungkapkan gagasan. Diksi yang baik berhubungan dengan pemilihan kata bermakna tepat dan selaras, yang penggunaannya cocok dengan pokok pembicaraan atau peristiwa (Sudjiman dalam Hasanuddin WS, 2001 : 99).
Dari beberapa definisi diksi yang diungkapkan oleh para ahli dapat ditarik kesimpulan bahwa diksi merupakan kegiatan dalam pemilihan kata dan menetapkan kata yang akan digunakan agar kata tersebut memiliki makna tepat dan selaras sehingga pembaca dapat menerima kepuitisan dan estetika dari puisi itu. Untuk itu, penulisan artikel ini akan dibatasi pada menganalisis unsur diksi dalam puisi karya Joko Pinurbo yang berjudul Kolam Joko.
B. Tentang Penyair dan Karyanya
1. Tentang Penyair
Joko Pinurbo, seorang sastrawan yang lahir di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat, 11 Mei 1962. Ia berkebangsaan Indonesia dengan karyanya yang perpaduan antara naratif, ironi, refleksi diri, dan kadang mengandung unsur kenakalan. Menyelesaikan pendidikannya di IKIP Sanata Darma Yogyakarta dengan fokus studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia pada tahun 1987 dan kemudian menjadi staf pengajar di almamaternya.
Sejak Tahun 1979 ia sudah mempelajari puisi yang dibuat oleh sastrawan terkenal Indonesia. Selama 20 tahun ia mengamati puisi/ sajak, selama itu pula ia belum membuat satu pun puisi. Hingga pada tahun 1999 barulah ia menghasilkan puisi dan membukukannya dalam antologi yang bertemakan ‘celana’ dan menurut pengakuannya belum pernah ada penyair yang pernah memakai kata tersebut dalam puisi.
Dari buku pertamanya hingga saat ini sudah banyak antologi puisi yang telah beliau terbitkan. Kumpulan puisi itu antara lain yaitu Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001), Pacarkecilku (2002), Telepon Genggam (2003), Kekasihku (2004), dan lainnya.
2. Tentang Kumpulan Puisi “Buku Latihan Tidur” dan Puisinya yang Berjudul “Kolam Joko”
Buku Latihan Tidur merupakan buku kumpulan puisi Joko Pinurbo yang terbit pada tahun 2017, memiliki ketebalan 68 halaman dan terdiri atas 45 judul puisi. Puisi-puisi dalam buku kumpulan ini dilahirkan dalam kurun waktu tahun 2012 hingga 2016. Puisi ini tercipta kerena penyair yang kesulitan untuk tidur, sehingga untuk memunculkan rasa kantuknya ia menulis puisi sembari berlatih untuk tertidur.
Kolam Joko adalah salah satu judul puisinya, puisi ini menceritakan tentang kehidupan sosial suatu negeri. Berikut ini puisi tersebut.
Kolam Joko
Ada banyak Joko di negeri yang jenaka ini
dan salah satu Joko menghadiahi saya
kolam kecil yang Joko temukan di sebuah lembah.
Kolam itu saya tanam di halaman rumah
Airnya tetap jenih walau zaman terus berubah.
Setiap orang yang lewat di depannya dipanggilnya
dengan nama atau embel-embel Joko.
Kepada bocah yang baru pulang sekolah
dan tampak lelah, kolam kecil saya berkata,
“Marilah kepadaku, hai Joko yang berbeban
cita-cita dan tumpukan ilmu, aku akan
membasuhmu dan menyegarkan mimpimu.” 1
Kepada ibu yang letih lesu
dan langkahnya goyah,
kolam kecil saya berseru,
“Marilah kepadaku, hai ibu yang melahirkan dan membesarkan Joko,
aku akan memberi kelegaan kepadamu.
Tumpahkan tangismu, maka air matamu
akan larut dan serupa dengan airku.” 2
Malam ini seekor kucing termenung di tepi kolam.
Mungkin ia sedang mengagumi bayang-bayang bulan.
Mungkin ia sedang memikirkan nasib seorang Joko
yang terancam gila, yang matanya menyala,
yang sibuk mencari ngeong di rimba kata-kata.
Mungkin ia sedang waswas: “Kesehatanmu lho, mas.”
(2014)
1,2 diolah dari Matius 11 : 28 : “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”
C. PEMBAHASAN
Setelah melakukan inventarisasi unsur diksi, maka ditemukanlah beberapa pemilihan kata yang dilakukan pengarang ketika menetapkan suatu kata yang akan dipakai dalam puisinya. Puisi “Kolam Joko” adalah sajak yang membahas kehidupan sosial suatu negeri yang memiliki banyak permasalahan, dan penyair menyematkan sesuatu hal yang religius.
1. Bait Pertama
Pada bait pertama, unsur diksi pertama adalah kata “jenaka”, kata ini memiliki persamaan yang lain yaitu “lucu”, “kocak”, dan “gelak”. Kata “jenaka” memiliki makna suatu hal yang dapat membangkitkan tawa seseorang. Berbeda halnya dengan “lucu”, “kocak”, dan “gelak”, kata ini jika dipakai akan terasa sangat frontal. Kata “jenaka” juga dapat memberikan kesan bijaksana sebab kata sebelum “jenaka” ada terdapat kata “negeri”. Sebab terdapat kata yang melambangkan suatu peradaban, maka kata jenaka juga lebih sesuai dari pada kata yang lain.
Selanjutnya adalah kata “joko”, selain sesuai dengan judul kata “joko” diambil dari bahasa Jawa yang berarti anak muda yang masih berkisar usia 17 sampai 35 tahun. Lelaki yang dimaksud di sini adalah lelaki yang masih sangat produktif. Persamaan kata lainnya adalah kata “lelaki”, dan “pemuda”.
Kediksian yang terakhir dari baik pertama adalah kata “tanam”, kata ini memiliki persamaan dengan kata “simpan”, “jaga”, dan “letakkan”. Kata “tanam” dipilih penyair sebab kata ini memiliki makna suatu perbuatan di mana seseorang meletakkan sesuatu dan membuatnya tumbuh. Jadi baris keempat ini mendapat makna yang lebih dalam ketika seseorang yang mendapat suatu hadiah kemudian ia simpan dan ditanam. Suatu yang ditanam pasti akan tumbuh dan berkembang sehingga memberi buah atau hasil.
2. Bait Kedua
Pada bait kedua, unsur diksi yang pertama adalah kata “berbeban”. Pada bagian ini, penyair ingin mengungkapkan seseorang yang sibuk dan bersemangat dalam cita-citanya. Kata “berbeban” bermaksud pada hal yang berat dan ditanggung oleh seseorang untuk kewajiban dan tanggung jawab. Sehingga kata “berbeban” menjadikan makna yang mengungkapkan bahwa cita-cita itu adalah suatu kewajiban dan tanggung jawab yang harus ditunaikan. Pemilihan ini sesuai dengan diksi sebelumnya yaitu “jenaka”, di mana cita-cita yang menjadi beban dan tanggung jawab merupakan hal yang aneh dan mengundang tawa.
Diksi berikutnya adalah kata “menyegarkan”, kata ini memiliki makna suatu kenyamanan yang baru dan masih baik kondisinya. Kata “menyegarkan” dipilih agar makna puisi lebih lekat saat sebelumnya dipakai kata “berbeban”. Sebuah tekanan dan beban yang akan berubah menjadi hal baik dan nyaman ketika mendapat suatu penyegaran.
3. Bait Ketiga
Pada bait ketiga, unsur diksi ada pada kata “kelegaan” yang memiliki makna perasaan plong tanpa ada kegelisahan lagi atas sesuatu hal. Kata “kelegaan” memiliki persamaan makna dengan “bahagia”, “gembira”, dan “girang”. Namun, kata kelegaan dipilih penyair agar makna pada bait ketiga lebih terasa bahwa ketika seorang ibu yang dilanda rasa letih dan gelisah akan sesuatu hal, maka ibu itu akan terus memikirkannya sampai ia mendengar sendiri jawabannya agar ia bisa merasa lega atau lapang.
4. Bait Keempat
Pada bait keempat ada kata “kucing” sebagai unsur diksinya. Kata kucing lebih dipilih oleh penyair karena kucing merupakan hewan peliharaan yang sifatnya ketika di malam hari lebih senang diam dan duduk-duduk di kursi atau di teras rumah. Pada puisi ini, kata “kucing” penyair ibaratkan seorang yang sedang merenung dan memikirkan akan seseorang yang sedang bekerja atau melakukan sesuatu hal untuk kelangsungan hidup mereka.
Selanjutnya, unsur diksi dalam puisi ini adalah kata “kesehatan” yang memiliki makna kondisi baik seseorang sehingga bisa menjalani kegiatannya secara normal. Kata “kesehatan” lebih dipilih oleh penyair sebab kata ini lebih menyimpan makna mendalam dari pada kata “kepulihan”, “kesembuhan”, dan “kewarasan”. Kesehatan sendiri adalah hal yang paling mahal di dunia ini, sebab tak ada satupun orang yang bisa membelinya. Orang yang sakit belum tentu bisa memiliki kesehatan walau ia sudah pulih. Kata “kesehatan” ini juga dipakai penyair untuk mengingatkan para pembaca bahwa ketika bekerja jangan turutkan ambisi yang negatif karena hal ini akan sangat berpengaruh pada diri kita dan kita bisa lupa diri.
D. Simpulan
Kesimpulan yang bisa diambil dari penganalisisan unsur diksi pada puisi yang berjudul “Kolam Joko” karya Joko Pinurbo adalah bahwa penyair sangat telaten dalam menerapkan unsur diksi ini, sehingga ia memiliki ciri khas sendiri sebagai seorang penyair. Joko Pinurbo selaku penyair memang betul-betul mempunyai cirinya dalam berpuisi sehingga karyanya yang cenderung lucu dan sering juga berbau religius ini mampu menyihir pembacanya dan menjadikan mereka senyum-senyum sendiri saat membaca. Unsur diksi pada puisi ini dibuat penyair dengan sangat menarik.
KEPUSTAKAAN
Aji, S. 2017. Tentang Buku Latihan Tidur. https://www.kompasiana.com/tuturaji/ 59fd25821774da50fd015692/tentang-buku-latihan-tidur.Online. diakses tanggal 3 November 2018.
Biografi Joko Pinurbo. Wikipedia. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Joko_Pinurbo. Online. Diakses tanggal 3 November 2018
Hasanuddin,WS. 2001. Membaca dan Menilai Sajak. Bandung: Angkasa.Pinurbo, Joko. 2017. Buku Latihan Tidur. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Pinurbo, Joko. 2017. Buku Latihan Tidur. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Pradopo, Rachmat Djoko. 1993. PENGKAJIAN PUISI: Analisis Strata Norma dan Analisis Struktural dan Semiotika. Yogyakarta: UGM Press.
Post a Comment